KONTAK KAMI | Butuh bantuan? Klik disini!
  • Phone: +62 85221313697
  • SMS: +62 85221313697
  • BBM: By Request
  • Whatsapp: +62 85221313697
  • Line - SentraOribelle
  • [email protected]
Beranda » Opini dan Info Ringan » Ciri-ciri Haji Mabrur

Ciri-ciri Haji Mabrur

Diposting pada 17 September 2017 oleh Sentra Oribelle

Semua orang Islam yang beribadah haji ke tanah suci tentu mengharapkan ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Untuk menjadi haji makbul atau haji mabrur harus sesuai dengan contoh (sunnah) Rasullullah SAW mulai dari niat, pelaksanaan, sampai kembali ke tempat tinggal. Hanya Allah yang mengetahui mabrur-tidaknya ibadah haji seseorang, namun demikian ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa ciri-ciri haji mabrur dapat kita lihat sehari-hari di antaranya:

Pertama:
Menggunakan harta yang halal untuk ibadah haji karena Allah tidak menerima kecuali yang halal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.

Dengan demikian jika kita mengharapkan ibadah haji kita mabrur maka harus memastikan terlebih dahulu bahwa harta yang kita pakai benar-benar rezeki yang diperoleh secara halal.

Kedua:
Melaksanakan ibadah haji sesuai dengan rurkun dan syarat yang telah dicontohkan Rasullullah SWA. Seandainya terjadi kelalaian atau kesalahan, maka harus segera ditebus dengan cara-cara yang telah ditentukan syariah.

Ketiga:
Ikhlas ketika beribadah, hal ini adalah tingkatan ibadah tersulit saat ibadah haji dan umroh. Banyak orang yang melaksanakan ibdah haji dan umroh semata-mata bukan ikhlas karena Allah tetapi ingin dilihat dan dipuji orang. Syuraih al-Qâdhi mengatakan, “Yang (benar-benar) berhaji sedikit meski jama’ah haji banyak. Alangkah banyak orang yang berbuat baik tapi alangkah sedikit yang ikhlas karena Allah Azza wa Jalla .”

Keempat:
Ketika melaksanakan ibadah haji selalu dipenuhi amalan-amalan baik seperti shalat di Masjidil Haram, shalat pada waktunya, berdzikir, bersedekah, berdo’a dan membantu rekan seperjalanan. Ibnu Rajab berkata, “Maka haji mabrur adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan baik dan menghindari perbuatan-perbuatan dosa.”

Kelima:
Tidak berbuat maksiat selama ihram. Meski Islam melarang kita berbuat maksiat, larangan tersebut menjadi lebih tegas saat ber-ihram. Jangan berharap menjadi haji mabrur jika hal penting ini dilanggar. Di antara yang dilarang selama haji adalah rafats, fusuq dan jidal. Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.

Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram.

Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah apapun bentuknya. Segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Jidal adalah berbantah-bantahan secara berlebihan. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya.”

Ketiga hal ini dilarang selama ihram. Adapun di luar waktu itu, bersenggama dengan pasangan sendiri kembali diperbolehkan, sedangkan larangan yang lain tetap dilarang.

Keenam:
Sepulang dari haji keadaannya harus lebih baik karena satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal shaleh melakukan perbuatan buruk, tanda Allah tidak menerima amalannya.

Orang yang hajinya mabrur akan menjadikan ibadah haji sebagai titik tolak lembaran baru dalam menggapai ridha Allah. Ia semakin mengutamakan kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia. Al-Hasan al-Bashri mengatakan,  “Haji mabrur adalah pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat. Tandanya adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan sebelum haji.”

Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Dikatakan bahwa tanda diterimanya haji adalah meninggalkan maksiat yang dahulu dilakukan, mengganti teman-teman yang buruk dengan teman-teman yang baik, dan mengganti majlis kelalaian dengan majlis dzikir dan kesadaran.”

Wallahu a’lam bishowab.

Silakan share kepada teman atau kerabat Anda !
Siapa tahu bermanfaat bagi mereka.

Ciri-ciri Haji Mabrur | ORIBELLE HIJAB STYLE

Mungkin Anda tertarik dengan produk terbaru kami.

Gamis Anak Naomi Green By Sentra Oribelle Setelan gamis anak Naomi dirancang chic & casual...

Rp 275.000

Gamis Syari Anak
Gamis Anak Naomi Green
Rp 275.000
Ready Stock / NAO03

Gamis Anak Naomi Purple By Sentra Oribelle Setelan gamis anak Naomi dirancang chic & casual...

Rp 275.000

Gamis Syari Anak
Gamis Anak Naomi Purple
Rp 275.000
Ready Stock / NAO02

Gamis Anak Naomi Pink By Sentra Oribelle Setelan gamis anak Naomi dirancang chic & casual...

Rp 275.000

Gamis Anak
Gamis Anak Naomi Pink
Rp 275.000
Ready Stock / NAO01

Gamis Oribelle Vania Guava By Sentra Oribelle Setelan gamis Oribelle Vania didesain simpel dari bahan Charmus...

Rp 385.000

Gamis Syari Branded
Gamis Oribelle Vania Guava
Rp 385.000
Ready Stock / VAN04
Temukan Kami
Oribelle di Tokopedia

SMS/Phone/WA: 0852-2131-3697

BBM: By Request

Email: sentraoribelle [at] gmail.com

Instagram: @sentraoribelle

Facebook: @sentraoribelle

Cart
Kontak